Friday, November 27, 2015

10 Mitos tentang Gamer yang Terbukti Salah!

10 Mitos Gamer - Featured

Apabila sudah berbicara tentang gamer, terkadang ada beberapa kabar yang tidak mengenakkan tentang perilaku mereka. Padahal, gamer adalah seorang manusia biasa yang punya rasa dan punya hati. Berikut ini adalah sepuluh mitos gamer yang sering kamu dengar di kalangan masyarakat. Apakah kamu setuju bahwa ini hanyalah mitos belaka?

Gamer itu kurang pergaulan

Apabila maksud kamu gamer di sini anti sosial, salah besar. Zaman sekarang, para gamer dapat dengan mudah mencari teman secara langsung di game itu sendiri dan bersosialisasi secara langsung.
Memang sih, gamer itu cenderung bergaul dengan teman yang juga sesama gamer. Apalagi kalau sudah berbicara soal game yang ternyata sama-sama sedang dimainkan. Tapi, bukan berarti gamer itu tidak gaul sama sekali ya.

Gamer itu selalu jomlo

Hyhy dan kekasih
Hyhy, pemain Dota 2 profesional, dan pacarnya
Hal ini jelas adalah mitos. Seorang gamer tidak selalu jomlo kok. Buktinya dapat kamu lihat para gamer profesional, yang menghabiskan kurang lebih delapan jam sehari bermain game, rata-rata sudah memiliki pacar.
Game tidak ada hubungannya dalam status lajang seseorang. Itu hanyalah bagaimana usaha dari masing-masing orang.

Gamer itu tidak dapat sukses di hidupnya

Tentu saja mitos. Gamer memiliki cara tersendiri untuk menjadi sukses di hidupnya. Beberapa developer game di Indonesia itu gamer juga lo. Mereka tidak hanya semata-mata bermain saja, melainkan menjadikan game itu sebagai profesi dengan menciptakannya.

Game itu hanya dimainkan anak kecil

Hampir seluruh tim Tech in Asia itu adalah gamer. Hal itu sendiri sudah cukup bukan untuk membuktikan bahwa ini adalah mitos? Bahkan laporan ESRB menyebutkan bahwa umur rata-rata gamer adalah 34 tahun lo!

Gamer itu temperamental

Orang-orang pada umumnya menganggap bahwa game dapat memicu tindak kekerasan. Hasilnya, mereka menganggap gamer itu mudah sekali marah.
Padahal, sudah banyak sekali penelitian di dunia yang menyelidiki hubungan antara video game dengan tindak kekerasan di dunia nyata. Namun, hasilnya sama sekali tidak menunjukkan bukti yang tidak konklusif.

Tidak ada yang namanya gamer wanita

Tahukah kamu kalau Tech in Asia pernah membahas tentang Nixiagamerwanita profesional? Bahkan, kami juga sempat mengundang Nixia sendiri dalam sesi Ask Me Anything. Oh iya, Nixia juga memiliki tim yang seluruh anggotanya perempuan. Jadi, gamer wanita itu bukan lagi mitos.

Gamer itu hanya menghabiskan uang saja

Tidak selamanya gamer itu menghabiskan uang. Bermain game dapat menjadi sebuah profesi juga. Misalnya menjadi seorang tester game, jurnalis game, developer game, sampai gamer profesional yang juga menghasilkan uang.
Meskipun hanya menjadi sekadar hobi saja, saya rasa gamer yang bertanggung jawab masih mampu mengatur keuangannya dengan bijaksana.

Gamer itu tidak memedulikan diri sendiri

Pandangan bahwa gamer itu cuek dengan dirinya sendiri (baca: jarang mandi), itu salah. Gamer pun tidak akan betah bermain dengan kondisi badan yang bau dan lengket. Selain itu, gamer juga harus menjaga kesehatannya supaya dapat bermain terus menerus. Alasan yang bagus bukan?

Gamer itu lebih mementingkan game daripada pasangannya

Meme Internet Husband
Meme ini hanyalah fiktif belaka
Di poin pertama, saya sudah membuktikan kalau gamer itu tidak selamanya melajang. Ketika sudah tidak lajang pun, gamer selalu dianggap lebih mementingkan game daripada pasangannya.

No comments:

Post a Comment